Jakarta.. Kebanjiraaan


Tahun 2013 ini, Jakarta kedatangan tamu tak diundang (bahkan tak diharapkan). Tamu kita saat ini pun sepertinya betah di Jakarta. Kenapa saya bilang seperti itu? Ya, karena sampai saat ini, tamu kita itu gak mau beranjak dari Jakarta. Kenapa tamu kita gak mau beranjak dari Jakarta? Ya, karena dia tidak tau harus kemana. Dia aja ditendang dari Puncak ke Bogor, Bogor ke Depok, Depok ke Jakarta. Nah, karena orang Jakarta baik hati dan mempunyai kebiasaan baik yakni membuang sampah sembarangan. Akhirnya tamu kita itu gak mau pergi, Jakarta pun gak bisa ngoper dia=..=”. 
Sebenernya siapa atau apasih tamu kita itu? Kalo yang pinter pasti langsung bisa nebak, kalo yang gak pinter pinter amat pasti masih ragu ragu jawabnya. Kalo yang IQnya jongkok pasti cengo masang tampang bego. Tapi, kalo yang taraf Intensitas (?) IQnya udah tengkurep guling guling jungkir balik, dia pasti langsung konslet otaknya, kemudian otaknya meleleh, dan lelehan otaknya akan keluar dari mulutnya (itulah yang biasa kita sebut dengan “ngeces”) sambil ingusan, garuk garuk kepala, garuk garuk idung, garuk garuk *ehem maaf* bokong. Nah, termasuk kategori apakah anda?
#okesip lanjut!
Banjir Tahun ini sungguh sangat terlalu *ala bang haji. Hampir seluruh wilayah Jakarta tergenang air, bahkan udah bukan tergenang. Jakarta KELELEP!. Sebenernya banjir ini salah siapa sih? Salah gue? Salah temen temen gue? Salah orang tua gue? Salah guru guru gue? Salah nenek moyang gue? Yang jelas ini bukan tentang “GUE”. Tapi, ini tentang “KITA”. Entah kenapa saat banjir melanda, kita sebagai warga Jakarta malah menyalahkan Pemda (Gubernur)? Kenapaaaaaaaaaaaaaa?? *teriak ditengah hujan


Harusnya kita semua sadar, bukannya Cuma bisa nyalahin pemerintah. Menuding janji mereka adalah janji palsu. Janji hanyalah Janji kawan. Janji itu hanya harapan. Kalau kita ingin harapan itu nyata, Kejarlah, buat itu semua menjadi nyata.
Awali keinginan kita dari diri sendiri dulu, kurangi pembuangan sampah secara sembarang. Niscaya Jakarta tidak akan kebanjiran.
Oh ya, ngomong ngomong soal banjir. Kayaknya yang ngerasain banjir bukan hanya kita warga biasa, tapi para pejabat di gedung DPR sana juga merasakan banjir loh. Banjir yang para anggota dewan alami juga lebih cetar membahana halilintar tornado kora kora bianglala hysteria ulala loh. Kalau kita kebanjiran air, mereka kebanjiran uang. Nah, uang itu berasal dari keringat rakyat! (intinya Korupsi tetap merajalela saat banjir). Tapi, entah kenapa para wakil rakyat kita ini sepertinya biasa aja loh. Apakah mereka ngungsi ke luar negeri? Atau mereka hanyut ketika mereka terlelap saat rapat dalam kondisi banjir? Nobody know!
Kembali ke topik utama, banjir tahun ini denger denger memakan korban. Ada yang anyut, ada yang kelelep, bahkan ada yang dimakan ular . Crazy Enough! Gosip gossip yang beredar waktu banjir kemaren itu adalah lepasnya buaya buaya dari penangkaran di sebelah pluit village yang kedalaman air banjirnya sampe 2 meter. Menurut gue dari semua buaya yang lepas, yang patut diwaspadai adalah “Buaya Darat”.
Banjir kemaren itu mematikan komunikasi, gimana enggak? Di rumah gue , gak ada satupun operator yang ada sinyalnya. Kecuali tel*****l gue. (merk disamarkan, demi kepentingan nusa bangsa dan Negara. Serta menjaga tidak adanya promosi).
Tapi, jangan kita pandang banjir dari sisi negatifnya aja. Banyak sisi positif dari banjir. Contohnya, kapan lagi bisa “candle light dinner” bareng keluarga? Kapan lagi semua anggota keluarga bisa ngumpul rame rame? Kapan lagi semua angoota keluarga gotong royong? Kapan lagi punya kolam renang pribadi? Kapan lagi bisa miara Piranha sama Ikan Hiu serta Belut Listrik di dalem rumah (kayak gue)? Kapan lagi bisa ngojek perahu sampe dapet duit lima ratus rebu (kayak gue *lagi)? Kapan lagi kalo bukan pas banjir kayak begini?
Ingat kawan, masih banyak hikmah dibalik banjir seperti ini J. Berpikirlah positif, jangan selalu berpikir negatif. Tapi, kadang kadang berpikir negative itu lebih baik dari pada positif hamil *halah
Eh, tunggu deh. Setelah gue inget inget lagi, banjir kemaren kan warnanya coklat tuh kan? Apakah sebenarnya banjir kemaren itu adalah susu coklat mi*o? atau awan punya bubuk coklat? Sehingga aernya bisa jadi warna coklat?
Terus, kalo dipikir pikir lagi. Sebenernya kalo di daerah pancoran tebet sana banjir semata kaki itu bahaya banget loh! Kenapa? Coba deh lo bayangin, banjirnya semata kaki patung pancoran! Gak kepikiran kan?! Satu lagi, kayaknya sekali kali Jakarta kudu ngirim aer ke bogor dan sekitarnya. Biar yang disana ngerasain aer nya Jakarta
Ya, mungkin sekian aja ketikan dari gue.
Jangan lupa kita bantu doa buat temen temen ataupun saudara kita yang rumahnya masih kelelep. Terutama bagi yang tinggal di sekitar Pluit village, Muara baru, Tanah Pasir, dsb. Pokoknya sekitar Bandengan, Penjaringan dan Pluit J

CMIIW (Correct Me If I’m Wrong)


Salam Banjir Cetar Membahana Badai

0 comments: